TULUNGAGUNG, Mediatrans9.com
Dinas kesehatan kabupaten Tulungagung menemukan 10 kasus kusta baru selama bulan januari hingga bulan mei 2021.penanganan penyakit ini sempat terhambat karena kondisi pandemi virus Corona ( COVID-19) selama tahun 2020.
Kasi pencegahan dan pengendalian penyakit menular dinas kesehatan kabupaten Tulungagung, Muhroji saat di konfirmasi tim mediatrans9.com, pada kamis 3 Juni 2021, mengatakan bahwa "data temuan penyakit yang disebabkan bakteri mycobacterium Leprae ini cenderung terus meningkat rata-rata 5 pasien per tahun.di tahun 2016 ditemukan 25 pasien, di tahun 2017 ditemukan 30 pasien, di tahun 2018 ditemukan 35 pasien, dan di tahun 2019 ditemukan 40 pasien.
"Sedangkan di tahun 2020 hanya ada 20 pasien karena kendala pandemi, membuat para pasien takut mengakses layanan kesehatan. Pasien enggan datang ke Puskesmas, karena itu kami memaksimalkan peran petugas ke lapangan,” terang Muhroji.
Lebih lanjut Muhroji menerangkan. "di kabupaten tulungagung tidak termasuk wilayah endemi kusta, dan temuan kasus ini dipicu mobilitas warga serta gaya hidup yang kurang bersih dan sehat, di antara pasien yang ditemukan sudah sampai pada tahap menimbulkan kecacatan fisik.
"Meningkatnya temuan pasien baru ini berkat sosialisasi terus menerus dari petugas kesehatan, sehingga hasilnya banyak warga mau dengan sukarela memeriksakan kondisi kesehatannya. pasien kusta penting untuk ditemukan lebih awal untuk mencegah mereka mengalami kecacatan fisik", jelasnya
"Dari proses edukasi dan sosialisasi, banyak warga yang mau memeriksakan diri. dari mereka akhirnya ditemukan pasien baru.perlu diketahui juga bahwa banyak warga yang tidak sadar dirinya mengidap kusta, sebab inkubasi bakteri ini cukup lama,satu hingga lima tahun. maka dari itu banyak pasien yang ditemukan sudah dalam kondisi terlambat", kata muhroji
Beliau juga mengungkapkan "sebenarnya penyakit ini bisa diketahui sejak dini dengan tanda klinis, seperti bercak pucat,seperti panu pada kulit namun mati rasa dan terjadi penebalan saraf.
"Perlu diwaspadai bahwa kusta termasuk penyakit berbahaya dan menular seperti TB, HIV maupun malaria.penularannya melalui droplet (muncratan cairan) saat pasien bersin atau batuk, serta kontak kulit dengan kulit. akan tetapi masyarakat diminta tidak perlu takut berlebihan, karena penyakit ini biasa menular para orang terdekat", imbuhnya
Muhroji menuturkan "yang perlu digiatkan adalah pola hidup bersih dan sehat agar masyarakat terbebas dari penyakit.selain menerapkan pola hidup bersih dan sehat, kecacatan karena kusta bisa dicegah dengan pemeriksaan dini.
Beliau juga berharap bahwa "warga yang mempunyai gejala klinis awal diminta untuk memeriksakan diri ke Puskesmas dan jika dipastikan kusta, warga bisa mengakses pengobatan sampai dinyatakan sembuh. Karena kami bekerja untuk mengejar target, Indonesia bebas kusta di tahun 2024.
Perlu di waspadai bahwa penyakit kusta dapat menyebabkan penderitanya tidak dapat menutup mata dengan rapat. jika ini terjadi, maka kornea mata lama-kelamaan akan kering dan mengalami luka. Kerusakan kornea tersebut akan menimbulkan gangguan penglihatan yang bisa berujung pada kebutaan. Bahaya kusta dapat menyebabkan komplikasi serius.
Kusta tetap berpeluang sembuh apabila dideteksi sedini mungkin dan pengidapnya kooperatif selama menjalani perawatan. pengobatan tergantung pada jenis kusta yang dimiliki. karena penyakit ini disebabkan oleh bakteri, maka antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi. ( Rudy/ berbagai sumber)
